Total Pageviews

Tuesday, January 31, 2012

Things You Out To Know About Panic Disorders


Panic disorders are real problems that can affect an estimated 7.5% of the general population at any given time. This widespread problem has the potential to be among the most debilitating mental health disorders we know of. The intensity of the panic attacks that panic disorders cause can vary from patient to patient. All of them have consistent physical symptoms that can sometimes make it hard to diagnose the problem properly. However, despite this alarming situation, the general public tends to be unaware of some of the basic facts surrounding panic disorders. Presented here is some basic information that could be useful to people who have panic disorders, or believe they know someone who has this particular mental health problem.

The Signs:

The primary symptom of panic disorders would be periods where the patient undergoes extreme anxiety. These periods are often known as panic attacks and are easily mistaken for signs of someone developing an anxiety disorder. The duration can cause the physical symptoms to vary from patient to patient and, in some cases, from attack to attack. An increased heart rate, excessive perspiration, uncontrollable trembling, and nausea have all been cited as physical signs of a panic attack. The frequency of these attacks can vary from patient to patient, with some experiencing attacks daily while others endure them on a weekly basis.

The Chance of An Incorrect Diagnosis:

Due to the physical symptoms that panic disorders have, some people can easily make the mistake of believing it to be a physical problem. There are a variety of physical ailments that can cause the same range of side effects and symptoms that panic disorders do. It is believed that a number of untrained observers may mistake a panic attack as epilepsy, or something similar. In some cases, the physical effects have been mistaken as heart attacks or strokes. A lack of knowledge of can also lead some observers to mistake the side effects of panic disorders to be a case of social anxiety or performance anxiety.


Possible Treatments:

Counseling has been noted as being helpful in alleviating panic disorders. Typically, psychiatric counseling and therapy is accompanied by the use of certain drugs, such as anti-depressants and anti-anxiety medications. The use of these medications can also help in cutting the connection between panic disorders and anxiety and phobias, helping the patient recover faster. Psychiatric counseling has also been useful in helping patients adapt to a normal life, particularly if the disorder was left untreated for an extended period.

Side Effects A Patient Might Develop:

Prolonged and untreated panic disorders can sometimes cause side effects like social anxiety, depression, and agoraphobia. Since panic attacks can occur during social situations, it can sometimes cause someone to develop performance anxiety or social anxiety. This is particularly true if the attacks frequently occur during times of great stress for the patient. Another possible reaction to these triggers can be depression and lack of confidence, as the person continues to fail in his endeavors. The onset of these side effects not only have an effect on mental health, but can also make recovery even more difficult. As such, it is critical that the problem be diagnosed and treated as early as possible. That way, the damage it can do is kept to a minimum.

Thursday, December 15, 2011

10 Habits Cause of Diabetes

Share Artikel ini melalui:        
Diterbitkan pada tanggal 7 - 12 - 2009 | 11 komentar 


DokterSehat.com – Berikut adalah beberapa hal kebiasaan hidup sehari-hari yang bisa menjadi penyebab diabetes:

1. Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes.

Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.

2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.

Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.

Pengganti: Buah potong segar.

4. Kurang tidur.

Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.

Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.

5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. “Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,” kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.

Solusi: Bersepeda ke kantor.

6. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.

Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.

7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga.

Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.

8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.

Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.

9. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.

Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum “berjemur” di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.

10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.

Pengganti: Jus dingin tanpa gula.

Sunday, December 11, 2011

Menangani Diare Pada Anak dengan Tepat

Masih ingat lagu anak-anak yang berjudul “Aku anak sehat”. Bunyinya teksnya seperti ini, aku anak sehat tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat, selama aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi, berat badanku ditimbang selalu, posyandu menunggu setiap waktu, bila aku diare ibu selalu waspada, pertolongan oralit selalu siap sedia.

Lagu tersebut ada manfaatnya juga. Pemberian oralit sebagai pertolongan pertama pada anak diare sudah diketahui sejak dulu. Sayangnya, orang tua sering terlalu panik dan cemas bila anaknya diare sehingga melupakan pesan penting dari lagu anak-anak tersebut.

Sebaiknya orang tua bersabar dan lebih tenang menilai kondisi anaknya, pada dasarnya diare merupakan penyakit yang sembuh sendiri (self limiting disease), yang dikhawatirkan dari diare adalah terjadinya dehidrasi, karena itu orang tua harus tahu tentang pencegahan dehidrasi dan tanda-tanda dehidrasi pada anak yang diare.

Bayi dan balita yang diare membutuhkan lebih banyak cairan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang melalui tinja dan muntah. Pemberian cairan yang tepat dengan jumlah memadai merupakan modal utama mencegah dehidrasi. Cairan harus diberikan sedikit demi sedikit dengan frekuensi sesering mungkin.

Oralit merupakan salah satu cairan pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat mengganti elektrolit yang ikut hilang bersama cairan.

Baca aturan penggunaan oralit dengan baik, berapa jumlah air yang harus disiapkan untuk membuat larutan oralit, sehingga takaran oralit dapat tepat diberikan. Larutan sup maupun air biasa cukup praktis dan hampir efektif sebagai upaya rehidrasi oral untuk mencegah dehidrasi.

Cairan yang biasa disebut sebagai cairan rumah tangga ini harus segera diberikan pada saat anak mulai diare. Berikan cairan dengan sendok, sesendok tiap 1-2 menit. Untuk anak yang lebih besar dapat diberikan minum langsung dari gelas/cangkir dengan tegukan yang sering. Jika terjadi muntah, ibu dapat menghentikan pemberian cairan selama kurang lebih 10 menit, selanjutnya cairan diberikan perlahan-lahan (misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit).

Selain pemberian cairan, pemberian ASI maupun makanan pendamping ASI harus tetap dilanjutkan agar anak tidak jatuh dalam keadaan kurang gizi dan pertumbuhannya tidak terganggu. Sebaliknya, larutan-larutan yang hiperosmoler karena kandungan gulanya tinggi tidak boleh diberikan, contohnya adalah teh yang sangat manis, soft drink dan minuman buah komersial yang manis.

Orang tua pun harus tahu tanda-tanda memburuknya diare. Bawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan atau ke dokter jika kondisinya tidak membaik dalam 3 hari atau buang air besar cair bertambah sering, muntah berulang-ulang, makan atau minum sangat sedikit, terdapat demam dan tinja anak berdarah.

Jangan tunggu lebih lama jika anak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, anak bersikap sangat rewel atau justru apatis dan lesu pada dehidrasi yang lanjut. Untuk anak-anak yang kurang dari satu tahun, dapat dilihat atau diraba ubun-ubunnya cekung. Pada dehidrasi yang ringan dan sedang, anak tampak sangat kehausan, namun bila dehidrasinya berat, anak justru tidak merasa haus lagi.

Dapat juga diperiksa turgor kulit pada daerah perut yang akan berkurang kelenturannya jika anak mengalami dehidrasi. Caranya dengan menjepit atau mencubit kulit selama 30-60 detik, kemudian lepaskan. Bila turgor kulit masih baik, kulit akan cepat kembali ke keadaan semula. Bila tidak, kembalinya akan lambat. Selain itu anak yang mengalami dehidrasi matanya akan terlihat cekung, menangis tidak keluar air mata, tidak kencing, mulut dan lidah terlihat kering.

Jika terjadi hal-hal tersebut maka anak perlu ditangani oleh petugas kesehatan. Antibiotik tidak rutin diberikan, hanya pada kasus-kasus tertentu saja dokter akan meresepkan antibiotik. Saat ini lebih sering diberikan sejenis probiotik yang dicampurkan dalam cairan atau makanan anak. Tujuan pemberian probiotik adalah memperbanyak "kuman baik" sehingga dapat mempersingkat episode diare.

Sejauh ini, pemberian obat antidiare pada anak dapat berisiko menimbulkan efek samping yang cukup berbahaya. Risiko tersebut dapat berupa mual, muntah bahkan yang cukup berat, timbulnya ileus paralitik (gangguan pada usus) yang dapat berakibat sangat fatal, bahkan tidak jarang membutuhkan pembedahan.

Anak Demam Bukanlah Penyakit?

Ketika Anak suhu badannya tinggi membuat orang tua cemas dan bersikap waspada, Namun, jangan panik jika mendapati sang buah hati demam. Dengan bersikap lebih tenang, orangtua bisa membantu anak melewati suhu badan yang tinggi secara alami.

Inilah beberapa fakta yang dapat membuat Anda tenang.

Demam bukanlah suatu penyakit. Dia lebih merupakan tanda bahwa sistem daya tahan tubuh sedang bertempur melawan bibit penyakit. Saat ada bibit penyakit, tubuh mengeluarkan substansi yang biasa disebut Pyrogene di dalam darah yang kemudian memberikan alarm kepada pengatur suhu yang berada di otak untuk meningkatkan suhu tubuh. Suhu yang lebih tinggi diperlukan agar sistem pertahanan tubuh bekerja lebih efektif sehingga bibit penyakit tidak dapat berkembang lebih banyak lagi. Jadi, demam lebih merupakan kawan daripada lawan!

Demam dimulai saat suhu tubuh 38 derajat Celcius (38º C). Suhu tubuh anak dapat meningkat antara 36,5º C hingga 37,5º C . Pada kisaran suhu ini, dokter anak biasanya belum menyebutnya sebagai demam. Dengan kata lain, bayi atau anak dapat dikatakan terserang demam bila suhunya sudah mencapai 38º C atau lebih. Anak yang demam biasanya menjadi gelisah dan rewel. Bila tubuh anak sudah mengeluarkan keringat dan suhu tubuhnya turun biasanya dia akan dapat tidur dengan tenang.

Setiap anak memiliki ciri khas demamnya sendiri. Ada anak yang kondisinya sudah buruk, padahal suhu tubuhnya baru 37,9º C, atau suhu tubuhnya tidak meningkat secara signifikan. Ada juga anak yang baru memburuk kondisinya ketika suhu tubuhnya mencapai 39,2º C. Di lain pihak, ada anak lain yang suhunya mencapai 40º C dan dia masih dapat tidur. Di sinilah perlunya dilakukan pengulangan dalam mengukur suhu tubuh anak. Pengukuran ini sebaiknya dilakukan di waktu dan bagian tubuh yang sama setiap harinya, agar hasilnya dapat diperbandingkan. Namun bila anak sedang tidur di saat waktu pengukuran suhu tiba, jangan dibangunkan! Tundalah sampai dia bangun. Jangan lupa untuk membaca dengan baik cara pakai termometer yang Anda gunakan agar hasilnya akurat.

Anak yang sedang demam butuh ketenangan. Anak yang sedang demam memiliki cara tersendiri untuk menenangkan dirinya. Bisa saja dia akan menggelayuti Anda seharian, tidak banyak bergerak, atau tidur lebih banyak. Istirahat ini penting bagi proses yang sedang terjadi di dalam tubuhnya, walau si anak sendiri mungkin tidak tahu mengapa dia merasa harus banyak beristirahat. Agar dia tidak bosan dan mau untuk tidak banyak bergerak, ajak dia bermain puzzle, mendengarkan musik, menggambar, melihat-lihat buku atau bacakan cerita untuknya

Sunday, November 20, 2011

Efek Buruk Ponsel Bagi Ibu Hamil & Anak


Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan, ibu hamil yang menggunakan ponsel dengan intensitas tinggi berisiko melahirkan anak dengan masalah perilaku di kemudian hari. Kondisi semakin buruk jika anak juga terbiasa menggunakan ponsel sejak dini.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat ini melibatkan sekitar 100 ribu wanita hamil. Penelitian yang bertujuan melacak kesehatan anak dalam 'jangka panjang' ini dilakukan dua tahap, 1996 dan 2002.

Dalam setiap penelitian, para ibu memberikan informasi secara rinci tentang gaya hidup mereka, faktor makanan, serta lingkungan, selama dan setelah kehamilan. Termasuk penggunaan ponsel selama kehamilan. 

ASI Bikin Anak Pintar Matematika




Tak ada makanan terbaik bagi bayi selain air susu ibu (ASI), terutama selama enam bulan pertama setelah kelahiran. Selain meningkatkan kekebalan tubuh, ASI juga bisa mencerdaskan otak si kecil.

Bahkan, menurut kalangan ilmuwan, efek dahsyat yang terkandung dalam ASI akan mereka rasakan ketika mulai memasuki dunia sekolah atau umur lima sampai 14 tahun. Anak-anak yang mendapat asupan ASI memiliki kemampuan belajar lebih baik, termasuk membaca, menulis, dan memahami matematika, dikutip dari Daily Mail.

Diare Pada Bayi

Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi.

PENYEBAB
  • Penyebab yang paling sering adalah infeksi oleh bakteri atau virus.
  • Bayi bisa terinfeksi jika menelan organisme tersebut ketika melewati jalan lahir yang terkontaminasi atau ketika disentuh/dipegang oleh tangan yang terkontaminasi.
  • Sumber penularan lainnya adalah barang-barang, makanan maupun botol susu yang terkontaminasi.
  • Kadang infeksi bisa terjadi akibat menghirup organisme yang melayang-layang di udara, terutama ketika sedang terjadi wabah virus.
  • Diare lebih sering ditemukan pada lingkungan yang kurang bersih atau pada lingkungan yang penuh sesak.