Total Pageviews

Friday, September 7, 2012

Gambar Vagina Dan Jenis-Jenis Vagina



Vagina adalah merupakan alat kelamin atau kemaluan wanita, Bagi anda yang belum tahu seperti apa vagina dan gambar vagina serta jenis-jenis vagina anda bisa melihatnya disini. vagina dalam bahasa Pilipina disebut Puki. Vagina juga merupakan sebuah saluran yang memiliki bentuk seperti tabung menghubungkan  uterus ke bagian luar tubuh pada mamalia dan marsupilia betina, atau ke kloaka pada burung betina, monotrem dll. Jadi yang memiliki vagina tidak hanya manusia serangga serta beberapa jenis invertebrata juga memiliki vagina.
Jenis- Jenis Vagina Dan Gambar Vagina
1. Mutasyahhimah. Yaitu perempuan yang vaginanya dipenuhi lemak. Perempuan semacam ini tidak mendapatkan kenikmatan kecuali dari penis yang panjang sehingga bisa mencapai jarak terjauh pada bagian dalam vaginanya
2. Lizqah. Jenis vagina yang terseret oleh daerah sekitar seperti paha serta bagian dalam vagina memiliki lemak yang sedikit Dan daging yang tersisa menempel dan menggantung pada bagian atasnya. Perempuan semacam ini menyukai penis yang diameternya lebar.
3. Qa’ra. Yaitu perempuan yang vaginanya cekung dan biasanya memiliki syahwat yang besar dan nafsunya yang melampaui batas. Vagina seperti ini menyukai penis yang berdiameter lebar dengan kepala besar agar dapat memenuhi tempat-tempat yang ada di dalam dan mengalirkan nikmat kepadanya.
4. Jaufa. Yaitu jenis vaginanya berongga sedangkan  jarak antara kedua bibir serta sudut-sudutnya jauh. Vagina semacam ini tidak dapat dipenuhi kecuali oleh penis yang panjang dan besar. Biasanya dimiliki oleh perempuan yang tinggi.
5. Mutkhamah. Yaitu perempuan yang bagian bawah dan bagian atas vaginanya sama. Syahwatnya kecil dan orgasmenya cepat. Perempuan semacam ini menyukai laki-laki yang goyangannya kuat dan orgasmenya cepat.
6. Syafra’. Yaitu perempuan yang daging kedua sisi vaginanya tipis. Perempuan semacam ini menyukai penis yang panjang dan kecil.
7. Munhaniqah. Yaitu perempuan yang dinding-dinding vaginanya tebal pada bagian luar dan kurang berisi pada bagian dalam sehingga syahwat tertahan di dalamnya. Perempuan semacam ini menyukai penis yang besar dan diameternya lebar, urat-uratnya keras dan kepalanya sangat besar.

Tuesday, May 29, 2012

Inilah Jenis – Jenis / Bentuk Vagina Wanita + Gambarnya


Vagina adalah alat kelamin wanita dan vagina juga merupakan saluran berbentuk tabung yang menghubungkan uterus ke bagian luar tubuh pada mamalia dan marsupilia betina, atau ke kloaka pada burung betina, monotrem, dan beberapa jenis reptil. Serangga dan beberapa jenis invertebrata juga memiliki vagina, yang merupakan bagian akhir dari oviduct. Vagina merupakan alat reproduksi pada mamalia betina, seperti halnya penis pada mamalia jantan.
Bentuk Vagina Wanita
1. Mutasyahhimah. Yaitu perempuan yang dipenuhi lemak. Perempuan semacam ini tidak mendapatkan kenikmatan kecuali dari penis yang panjang sehingga bisa mencapai jarak terjauh.
2. Lizqah. Yaitu perempuan yang termakan oeh daerah-daerah yang ada di sekitarnya. Lemak di dalamnya sedikit. Dan daging yang tersisa menempel dan menggantung pada bagian atasnya. Perempuan semacam ini menyukai penis yang diameternya lebar.
3. Qa’ra. Yaitu perempuan yang cekung karena syahwatnya yang besar dan nafsunya yang melampaui batas. Penis yang paling disukainya adalah yang diameternya lebar dan kepalanya besar agar dapat memenuhi tempat-tempat yang ada di dalam dan mengalirkan nikmat kepadanya.
4. Jaufa. Yaitu perempuan yang sisi-sisi berongga dan jarak antara kedua bibir serta sudut-sudutnya jauh. Vagina semacam ini tidak dapat dipenuhi kecuali oleh penis yang panjang dan besar. Biasanya dimiliki oleh perempuan yang tinggi.
5. Mutkhamah. Yaitu perempuan yang bagian bawah dan bagian atas sama. Syahwatnya kecil dan orgasmenya cepat. Perempuan semacam ini menyukai laki-laki yang goyangannya kuat dan orgasmenya cepat.
6. Syafra’. Yaitu perempuan yang daging kedua sisi tipis. Perempuan semacam ini menyukai penis yang panjang dan kecil.
7. Munhaniqah. Yaitu perempuan yang dinding-dinding tebal pada bagian luar dan kurang berisi pada bagian dalam sehingga syahwat tertahan di dalamnya. Perempuan semacam ini menyukai penis yang besar dan diameternya lebar, urat-uratnya keras dan kepalanya sangat besar.
sumber: email berantai

Thursday, May 24, 2012

Lima Makanan Pereda Sariawan

Sariawan kerap dialami oleh siapa saja. Apalagi jika orang tersebut tak pandai memilih makanan. Selain kekurangan vitamin, sariawan juga dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti rokok, minuman alkohol, makan atau minum yang panas dan hidangan pedas.

Saat sariawan melanda, otomatis nafsu makan pun akan menurun. Apa saja yang masuk ke dalam mulut terasa sakit dan hambar. Untuk mencegah dan mengobatinya, Anda dapat mengkonsumsi beberapa jenis makanan berikut ini:

Vitamin B
Kekurangan vitamin B tak hanya menyebabkan mulut bermasalah, tetapi juga memicu anemia dan depresi. Untuk memperolehnya vitamin B, Anda dapat konsumsi tiram, telur ikan, susu kedelai, dan susu beras secara rutin.

Zat besi
Zat besi tidak hanya menyembuhkan sariwan, tetapi juga memperkuat tulang dan otot. Untuk tetap fit dan sehat, sebaiknya Anda rutin mengkonsumsi bayam, daging sapi, hati ayam, wijen dan sereal.

Asam folat
Untuk menghindari sariawan atau luka mulut yang berulang, Anda harus membiasakan mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat. Asam folat banyak terdapa pada sayuran hijau gelap, seperti bayam, asparagus, kacang polong, lobak dan kacang-kacangan.

Air kelapa
Meski bukan salah satu jenis makanan, air kelapa adalah obat ampuh yang dapat menyembuhkan luka pada mulut. Banyak minum air kelapa juga dapat meredakan peradangan dan mencegah sariawan.

Buah-buahan
Jeruk, pisang dan nanas merupakan makanan sehat yang dapat menyembuhkan sariawan di mulut. Buah-buahan ini dapat membantu karena dapat meningkatkan metabolisme, anti-inflamasi dan kaya vitamin C. Jika Anda memiliki masalah serius dengan sariawan, konsumsilah buah-buahan ini.


Sumber : VIVAnews

Saturday, May 19, 2012

Cara Menangani Demam Pada Bayi dan Anak-anak

Sebagai seorang ibu yang pintar buat anaknya kita dituntut untuk benar-benar tahu bagaimana menghadapi setiap kondisi anak. Terutama tentang tumbuh kembang anak dan kesehatan anak. Bayi dan anak-anak rentan sekali terserang penyakit makanya tak heran kalau sering sekali mereka demam. Jadi sebagai orang tua kita harus belajar dan tahu tentang apa itu demam. Liyut akan berbagi pembahasan dari dr. Tri Rejeki Herdiana di Liputan 6 soal menangani demam pada si kecil.

Demam adalah peningkatan suhu tubuh melebihi normal. Temperatur normal tubuh berkisar antara 36-38 derajat celcius. Anak Anda mengalami demam apabila dengan pengukuran suhu temperatur :
Termometer pada rektum atau anus melebihi 38 derajat celcius
Termometer pada mulut melebihi 37,5 derajat celcius
Termometer pada ketiak melebihi 37 derajat celcius



Demam pada bayi

Apa Penyebab Demam?
Demam terjadi ketika “termostat” dalam tubuh meningkatkan temperatur tubuh di atas batas normal. Termostat ini berada di salah satu bagian otak yang disebut dengan hipotalamus. Hipotalamus akan mengatur temperatur tubuh yang sesuai dan akan mengirimkan sinyal ke tubuh untuk menjaga temperatur normal.

Terkadang hipotalamus akan “mengatur” temperatur tubuh menjadi lebih tinggi sebagai respon terhadap infeksi, penyakit, dan penyebab lainya. Para peneliti mengemukakan bahwa peningkatan temperatur tubuh merupakan cara tubuh untuk melawan kuman yang menyebabkan infeksi dan membuat tubuh sebagai tempat yang tidak nyaman bagi kuman tersebut.

Demam merupakan suatu gejala dan bukanlah penyakit. Demam dapat disebabkan karena infeksi, kondisi yang terlalu panas, imunisasi, dan penyebab lainnya.

Bagaimana mengukur suhu pada anak?
Mengukur suhu dengan menggunakan tangan pada dahi, pipi, atau perut anak bukanlah cara yang baik untuk mengukur demam. Anda sebaiknya mengukur peningkatan suhu pada anak menggunakan termometer untuk meyakinkan bahwa anak Anda terkena demam. Jenis termometer di antaranya adalah termometer raksa, termometer digital, dan termometer timpanik yang diletakkan pada telinga. Cara pengukuran termometer raksa di antaranya adalah :

Untuk bayi dan balita:
Pengukuran terbaik menggunakan termometer yang diletakkan pada ketiak. Taruh ujung termometer pada pertengahan ketiak, pegang dengan satu tangan dan gunakan tangan yang lain untuk menahan lengan bayi agar tidak terbuka. Tahan termometer selama tiga hingga empat menit

Usia lima tahun keatas:
Pengukuran terbaik adalah dengan menggunakan termometer yang diletakkan pada mulut. Apabila anak baru makan sesuatu yang dingin atau panas, tunggu 10 menit baru mengukur suhu. Baringkan anak Anda, taruh termometer di bawah lidahnya, beritahukan kepada anak Anda untuk menutup mulutnya namun jangan menggigit. Tahan termometer selama dua hingga tiga menit

Apakah anak sebaiknya dimandikan apabila demam?
Memandikan dengan menggunakan busa atau lap basah merupakan salah satu cara yang baik untuk menurunkan demam apabila anak muntah atau tidak dapat meminum obat penurun demam. Terkadang, mandi dan minum obat penurun demam dapat menurunkan demam dan membuat anak merasa lebih nyaman. Gunakan air hangat dan lap anak Anda dengan busa khusus atau lap mandi.

Bagaimana cara menangani demam pada anak ?
Tanpa obat :
Bila anak Anda tetap makan, minum, dan bermain seperti biasa, kemungkinan dia tidak membutuhkan obat penurun panas.
Pakaikan baju yang tipis atau pakaikan hanya pakaian dalam sehingga anak akan melepaskan panas lewat kulitnya.
Kompres anak dengan menggunakan air hangat pada dahi, leher, ketiak, dada. Jangan biarkan kompres mengering di badan anak, angkat kompres ketika setengah kering, celup kembali di air hangat, peras, letakkan di badan anak.
Jangan menggunakan alkohol sebagai kompres anak. Alkohol dapat menyebabkan kehilangan panas terlalu cepat sehingga menyebabkan intoksikasi atau keracunan alkohol.
Tutupi anak dengan selimut tipis apabila anak kedinginan atau menggigil.
Istirahatkan anak Anda karena aktivitas dapat meningkatkan demam.
Berikan anak cairan ekstra berupa air, jus, atau susu. Apabila anak tidak mau minum, berikan anak cairan apapun yang dia inginkan.

Dengan obat :
Obat dapat membantu anak untuk merasa lebih baik namun tidak menghentikan demam.
Berikan Parasetamol setiap empat jam sekali atau enam kali sehari.
Bacalah labelnya dan ikuti petunjuk yang ada sesuai dengan umur dan berat badan anak.
Diskusikan dengan dokter sebelum memberikan Ibuprofen.
Jangan berikan Aspirin pada anak di bawah 16 tahun karena dapat menyebabkan penyakit yang serius seperti Sindrom Reye’s yang dapat mengakibatkan kerusakan otak dan hati.

Kapan sebaiknya ke dokter?
Hubungi dokter apabila bayi Anda demam dengan temperatur rektal lebih tinggi dari 38 derajat celcius, dan berusia di bawah tiga bulan
Hubungi dokter apabila temperatur anak pada usia tiga bulan hingga tiga tahun mencapai suhu 39 derajat celcius atau lebih.
Hubungi dokter apabila anak demam dan hilang nafsu makan, sakit kepala, muntah atau nyeri perut, menangis melebihi biasa, mengalami nyeri pada tenggorokan, sulit bernapas, nyeri pada telinga, dan nyeri ketika berkemih

Demam biasa tidak akan berlangsung lebih dari tiga hari. Hubungi dokter bila temperatur anak tidak turun setelah tiga hari dan telah dilakukan semua tindakan di atas.(LUC)

Sumber : Liputan 6.com

Wednesday, May 16, 2012

Waspadai Kolesterol Tinggi Lewat Kondisi Kaki

Banyak orang terlambat menyadari gangguan kolesterol. Mereka umumnya baru sadar setelah berada dalam kondisi parah yang tak jarang berujung fatal.

Kolesterol jenis high density lipoprotein (HDL) memang bermanfaat untuk pembentukan membran sel dan produksi hormon. Namun, jumlah kolesterol jahat, low density lipoprotein (LDL), yang berlebihan dapat memblok aliran darah menuju otak.

Peningkatan kadar kolesterol jahat juga bisa terjadi akibat peningkatan trigliserida, salah satu lemak dalam darah yang bisa merusak arteri. Selain stroke, tingginya kadar kolesterol jahat juga menjadi pemicu utama jantung koroner.

Mengontrol kadar kolesterol dalam darah menjadi penting untuk menjaga stabilitas kesehatan. Selain check-up medis secara rutin, jangan abaikan gejala awal yang mungkin terkesan tak genting, seperti nyeri di pergelangan kaki (klaudikasio intermiten).

Seperti dikutip Times of India, penelitian medis menunjukkan bahwa nyeri di pergelangan kaki bisa menjadi penanda awal tingginya kadar kolesterol jahat dalam darah. Mengapa? Karena timbunan kolesterol jahat di sekitar tendon Achilles biasanya memunculkan rasa nyeri.

Jadi, jika pergelangan kaki Anda terasa sakit selama tiga hari atau lebih, jangan ragu pergi ke dokter untuk mengukur kadar kolesterol. Ini terutama jika anggota keluarga lain memiliki masalah kesehatan jantung.

Berikut sedikit panduan untuk membaca angka-angka mengenai kadar kolesterol dalam darah:

LDL  
Baik: Kurang dari 130 mg/dl
Lebih baik: Kurang dari 100 mg/dl

Untuk mencapai batas normal?
Kurangi makan: Lemak jenuh, lemak trans, makanan berkolesterol tinggi.
Perbanyak makan: Lemak tak jenuh tunggal (avokad dan omega 3, seperti ikan).
Lakukan:  Penurunan  berat badan.

HDL  
Baik: 40 mg/dl atau lebih
Lebih baik: 60 mg/dl atau lebih

Untuk mencapai batas normal?
Kurangi makan: Karbohidrat dan gula serta hasil olahannya.
Perbanyak makan: Lemak tak jenuh tunggal (avokad dan omega 3, seperti ikan).
Lakukan: Olahraga, tidak merokok, serta turunkan berat badan.

Triglicerida
Baik: Kurang dari 150 mg/dl

Untuk mencapai batas normal?
Kurangi makan: Karbohidrat dan gula serta hasil olahannya, santan, minyak, dan makanan yang berlemak tinggi (kacang tanah).
Lakukan: Penurunan berat badan.

Thursday, February 16, 2012

Top Five Acne Remedies


Many people are concerned about products to remove acne, yet perhaps the more important factor to consider is prevention. After all, an ounce of prevention is worth a pound of cure. So, here are five of the basic but most important ways in order to treat and prevent acne build up.

1. Cleaning

Washing away the outside layer of the skin with natural oils is not really helpful preventing or curing acne, or pimple for other people, for it develops under the skin. Although it's a belief the people develop acne due to the fact that they don't cleanse their skin thoroughly. For everyone's information, washing the skin too much can cause irritation and produces more whiteheads and blackheads that turn into pimples after being infected. Gentle washing is only needed. Use mild soaps or cleanser, an example is Cetaphil or acne bars. Another good sample is Neutrogena product that washes acne.

2. Exfoliating

It is also important to exfoliate; this helps remove the dead skin cells, to maintain a healthy and glowing skin. A mild cleanser will help exfoliate the face after washing. Scrubbing will also help exfoliate the face, which can be done once or twice a week. This procedure will aid in reducing dead layers skin cells that clog the pores, reason why more pimples or acne.

3. Keeping the skin Clear

- Make sure that all cosmetics such as powder, lotion, blush on, foundation, and even sunscreen are oil free

- Complex 15 is oil free moisturizer that helps avoid dry skin

- Get in the habit of using oil-free lotions

- Get rid of hair chemicals such as gels or hair cream

- Always watch for labels with the term non-comedogenic, which means they don't cause pores to be clogged

4. Proven Chemicals

Benzoyl Peroxide

This eliminates the bacteria that worsens acne and it also unplugs oil secretions and helps pimples or acne to heal. This can be found in many over-the-counter acne treatments. Start traditionalistically with a five percent moisturizer once everyday like after washing the face before going to bed. After a week, make it twice everyday if there are no other medications being taken or used. If the acne is not yet healed after four to six weeks, try a ten per cent mixture. This can be bought over-the-counter, however, there is a need to seek for a doctor's prescription. Just be sure to request for a real form: the pharmacist can be asked which can be bought over-the-counter or which needs prescription.
Antibiotics

These are available only if there's a doctor's recommendation. Antibiotics are very helpful aid for pimples or acne that is already swelling and red and usually have pus, or for if it not those not anymore being treated with medications as expected. These antibiotics eliminate the bacteria, which develop to whiteheads. Make it a point to follow the doctor's recommended dosage and always take the antibiotic pills with enough amount of water. Some of these bacteria killing medicines may also increase the skin's sensitivity to the sun, for this use sunscreen when going out to prevent any sunburn.

Accutane

Accutane are antibiotics that are available only under a doctor's order and recommendation. Accutane is a very optimized pill that is intended for those with deep scars, or pimples that can no longer be treated by other medications or antibiotics. Blood test is taken every now and then when using Accutane as medication, as this can affect the levels blood cell and blood count. For women, the physician, possibly an obstetrician-gynecologist may require the intake of birth control pills prior to prescribing the Accutane. Extra caution is really taken into consideration, as it can be very harmful to to pregnant women. However, until this time some physicians are not prescribing Accutane.

5. Treatment Information

The Treatment can take some time which often takes six to eight weeks for the pimple to heal after there will be another start of treatment. Some medications can cause acne to get even bigger or redder before it gets well, there are times when these could have pus too. If the acne still has not welled after several medications with other drugs, the doctor may suggest that the patient take an oral medicine. Doctors recommend this retinoid as a last treatment, due to its serious effects and it is also very expensive. Sometimes women are asked to take birth control pills as to help them control acne especially in women who mood swings even before their menstruations start.

Tuesday, February 14, 2012

Flu Threat: Lessons From Past Pandemics


Flu and the Immune System

Influenza ("flu") strikes every year and afflicts millions. Under normal circumstances, flu is not considered a general public health risk. Of course, any disease must be taken seriously for two reasons.

First of all, any disease, including flu, can become dangerous through complications.

But, let's also understand the far more important issue with regard to flu (and not just avian flu)…but disease in general. Every flu is a problem primarily because our immune system gets compromised through life's stresses. Put bluntly, flu is "caught" by people because their immune system is not functioning well.

Immune system dysfunction and weakening occurs from constant stress, constant threat of danger, constant deprivation of nutritional needs, and constant exposure to vicissitudes of life. Flu …even deadlier strains such as avian flu, can be the result.

Specifically, flu impacts us due to an under active immune system. This is true of many diseases such as cancer, Hepatitis B and C, TB, strep, shingles as well as flu. Other disease conditions are the result of an over active immune system.

What makes this an issue of late is the fact that only recently has science begun to understand the immune system, its complications, its sheer power to fend off disease conditions and its power to aid in the healing process.

Remember that as we introduce the potential of avian flu.

Avian Flu and Pandemics of the Past

To understand the avian flu threat, we need to understand flu pandemics of the past. Flu epidemics have been explosive and unusually deadly. In past centuries, flu probably spread so fast due to humans and animals living in close proximity.

As you probably know, avian flu is a complex disease mutated from flu that kills birds. But, avian flu has mutated successfully to strike human life. Close proximity of animal and human life allows for such mutations to develop and spread.

Flu can spread like wildfire. The pandemic flu of 1580 began in Asia, spreading over all continents in less than a year. The flu engulfed all of Europe in less than six months.

That's the problem with flu breakouts. Flu pandemics hit like the proverbial flash flood. A highly contagious flu virus can hit populations that have little or no specific antibody immunities to the disease, infect a quarter of the population, outstrip societal response capability, disrupting societal health and economy.

The fear today is that avian flu will strike suddenly and will spread globally in a matter of mere months.

There were three flu pandemics of the 20th century. They are well documented as to origin, spread, and impact. Those flu pandemics occurred in 1918-19, 1957-58, and 1968-69.

The flu pandemic of 1918-19 killed upwards of 40 million people. No doubt, society did not have the tools nor understanding to stop the plague. However, if ever there was an argument for immune debilitation, it's war weariness.

Almost every author who writes about this flu pandemic notes the fact the world was at war. But, that was not a mere footnote. It was a major contributor to society's incapacity to restrain, much less stop the flu plague.

War brings unique circumstances, to say the least. War brings a strain to everything including the immune capacity of the survivors. If flu occurs in compromised immune systems, war guarantees the stress and deprivation which is often the prelude to plague:

" soldiers live in horrid conditions and return to a disrupted life but the effect on their immune system follows them into peace time …and plague,

" loss of loved ones brings its stresses to the emotions which impacts the immune system," constant anxiety for soldiers and loved ones even though they return safely, brings its emotional traumas and immune system depletion,

" loss of hygienic conditions weakens resistance and breeds viral and bacterial conditions,

" depression economy brings poverty and its consequences to human quality of life,

" uncertainty of safe living conditions (bombing, terrorism, battle, mob actions)
during war takes its own toll on the body

" disrupted economies, making recovery long, difficult and uncertain,

" work hours longer and work conditions harsher, pay less,

" crime, destruction, barbarism frightening or actual,

" whole economies perish, trade and commerce uncertain,

" political uncertainties,

" peace often brings more severe dislocation and hardship (this was especially the case after World War I),

" all populations suffer nutritional deprivation, with few exceptions

When flu strikes after such conditions, scientists often misjudge the fact that the victims, deemed "healthy", really were compromised terribly throughout the war and peace time consequences. The generation, which was victimized by the "Spanish flu" of 1918-1919, was in the age range of 15 - 35 … the very age which includes:

" soldiers,

" single parents,

" factory workers,

" teens called upon to assume unusual responsibilities on the home front

" workers in their prime, needed on all fronts...

" medical and other service personnel exposed to a constant need for their services,

Their "after the war" physical let down is almost reminiscent of what happens to people after particularly long periods of stress…They fall prey to flu, colds, and infection.

Why the flu? To answer that question, consider the physical impact upon athletes from their workouts.

It is now known that after a heavy workout, whatever other benefits accrue to the body, there is one clear draw back. The oxidized radicals thus formed take the body several days to get over… leaving the body open to radical damage and some internal harm. (See my article: "Antioxidants, Free Radicals, and Sports Nutrition"

New research suggests glyconutritional supplementation taken before, during, and especially after workouts helps the body get over the radical burden in a matter of hours, not days.

Now, if recent research shows that athletic stress takes days to get over, often leaving damage to organs and tissues in its wake (especially if it is a habitual practice), why are we surprised at the massive flu fall out following the First World War - a war which was worldwide in its scope, as was the flu pandemic which followed it?

Perhaps, before we consider avian flu in the second article, we should realize there is strong scientific testimony that recognizes glyconutrition is a way to prepare and deal with the onset of deadly flu…and potentially other pandemic possibilities.

Read the following testimony before Congress when doing further research on flu, avian or otherwise.

"In instances of unusual, epidemic, or virulent infectious agent exposure, glyconutrient supplementation has been found effective for enhancing general immune functions and defense. When supplied at higher levels than available in nature, sugars needed for cellular synthesis can take innate defense systems to a much higher level that are effective against infectious agents."

-Dr. H. Reginald McDaniel, "Comprehensive Medical Care for Bioterrorism Exposure"
Congressional Hearing, November 14, 2001
(emphasis ours)

Tuesday, January 31, 2012

Things You Out To Know About Panic Disorders


Panic disorders are real problems that can affect an estimated 7.5% of the general population at any given time. This widespread problem has the potential to be among the most debilitating mental health disorders we know of. The intensity of the panic attacks that panic disorders cause can vary from patient to patient. All of them have consistent physical symptoms that can sometimes make it hard to diagnose the problem properly. However, despite this alarming situation, the general public tends to be unaware of some of the basic facts surrounding panic disorders. Presented here is some basic information that could be useful to people who have panic disorders, or believe they know someone who has this particular mental health problem.

The Signs:

The primary symptom of panic disorders would be periods where the patient undergoes extreme anxiety. These periods are often known as panic attacks and are easily mistaken for signs of someone developing an anxiety disorder. The duration can cause the physical symptoms to vary from patient to patient and, in some cases, from attack to attack. An increased heart rate, excessive perspiration, uncontrollable trembling, and nausea have all been cited as physical signs of a panic attack. The frequency of these attacks can vary from patient to patient, with some experiencing attacks daily while others endure them on a weekly basis.

The Chance of An Incorrect Diagnosis:

Due to the physical symptoms that panic disorders have, some people can easily make the mistake of believing it to be a physical problem. There are a variety of physical ailments that can cause the same range of side effects and symptoms that panic disorders do. It is believed that a number of untrained observers may mistake a panic attack as epilepsy, or something similar. In some cases, the physical effects have been mistaken as heart attacks or strokes. A lack of knowledge of can also lead some observers to mistake the side effects of panic disorders to be a case of social anxiety or performance anxiety.


Possible Treatments:

Counseling has been noted as being helpful in alleviating panic disorders. Typically, psychiatric counseling and therapy is accompanied by the use of certain drugs, such as anti-depressants and anti-anxiety medications. The use of these medications can also help in cutting the connection between panic disorders and anxiety and phobias, helping the patient recover faster. Psychiatric counseling has also been useful in helping patients adapt to a normal life, particularly if the disorder was left untreated for an extended period.

Side Effects A Patient Might Develop:

Prolonged and untreated panic disorders can sometimes cause side effects like social anxiety, depression, and agoraphobia. Since panic attacks can occur during social situations, it can sometimes cause someone to develop performance anxiety or social anxiety. This is particularly true if the attacks frequently occur during times of great stress for the patient. Another possible reaction to these triggers can be depression and lack of confidence, as the person continues to fail in his endeavors. The onset of these side effects not only have an effect on mental health, but can also make recovery even more difficult. As such, it is critical that the problem be diagnosed and treated as early as possible. That way, the damage it can do is kept to a minimum.